Ngasa menjadi
bukti masih adanya masyarakat adat yang eksis dalam menjaga warisan leluhur.
Upacara ini digelar setahun sekali sejak ratusan tahun silam dan sudah dikenal
sebagai event tahunan yang cukup meriah bagi warga desa Gandoang.
Upacara Adat Ngasa Dihadiri Dinas Pariwisata
Dalam rangkaian
acara tahunan ini, bukan hanya dihadiri oleh warga setempat. Akan tetapi juga
Pimpinan SKPD/OPD, Forkompincam Salem, Wakil Perhutani KPH Pekalongan Barat dan
KPH Balapulang serta Perwakilan Cabang Dinas Kehutanan V DLHK Provinsi Jawa
Tengah.
Selain itu, hadir pula Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Brebes yang menyampaikan sambutannya dalam event ini.
Sambutan tersebut
disampaikan oleh Bapak Masdori selaku Kasi Seni dan Film Dinas Kebudayaan dan
pariwisata Kab. Brebes.
Dalam sambutannya,
Beliau Menyampaikan bahwa Kabupaten Brebes mempunyai potensi nilai budaya dan
tradisi. Salah satu eksistensi serta pelestarian tersebut berupa upacara adat
Ngasa.
Saat ini Upacara
Ngasa sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda atau WBTB. Penetapan
ini dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2019.
Upacara adat ini
diadakan pertama kali pada masa pemerintahan Bupati Brebes yang ke sembilan.
Beliau adalah Raden Arya Candranegara pada masa pemerintahan tahun 1880-1885.
Sejak itulah upacara Ngasa ini kemudian digelar sampai turun-temurun.
Pelaksanaan Upacara Ngasa
Lokasi Ngasa
digelar di lereng Gunung Sagara. Lokasinya berada di sebelah utara desa
Gandoang. Pelaksanaan upacara ini rutin digelar pada bulan kesembilan atau
mangsa kasanga di kalender jawa. Ritualnya juga dilaksanakan pada hari Selasa
atau Jumat Kliwon.
Saat upacara adat
ini digelar, maka semua masyarakat begitu antusias dalam menyambutnya. Warga
masyarakat sekitar berbondong-bondong ke lereng gunung Sagara dan menempuh
perjalanan 2 km selama 2 jam lamanya.
Biasanya dalam
rangkaian upacara adat ini warga masyarakat membawa bekal berupa nasi ketan
atau nasi jagung, umbi-umbian serta hasil pertanian.
Sebelum warga
sampai ke tempat upacara adat Ngasa yang digelar, mereka akan berwudhu atau
mensucikan diri di pancuran lima. Kemudian akan dilanjutkan ke lokasi Ngasa.
pada tahun 2021
ini, Pemerintah Kabupaten Brebes lewat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
Kabupaten Brebes telah menginisiasi Upacara Ngasa Gandoang. Harapannya, tradisi
adat yang berada di Desa Gandoang ini bisa memantik berbagai event seni tradisi
yang berada di kaki Gunung Sagara ini.
Sebab, Gandoang
memiliki potensi yang dapat dikembangkan menjadi sebuah kawasan adat serta
masyarakat hutan adat lengkap dengan wisata budaya.
Ngasa Menjadi Event Pengenalan Wisata Budaya Brebes
Gelaran event
upacara Ngasa ini menjadi salah satu sarana untuk mengenalkan, mengembangkan
serta menguatkan nilai tradisi yang berada di Kabupaten Brebes. Selain itu,
melalui upacara Ngasa harapan akan penguatan nilai identitas kelokalan juga
akan terwujud.
Dengan demikian,
desa Gandoang akan dikenal masyarakat luas. Bukan hanya masyarakat lokal saja.
Bahkan masyarakat luar daerah yang ada di seluruh Indonesia bisa mengetahui bahwa
di Brebes ada upacara adat yang masih lestari hingga kini.
Upacara adat
tahunan yang digelar oleh masyarakat desa Gandoang ini juga menjadi sarana
permohonan doa Ngasa tahun ini. Harapannya agar pageblug Covid-19 ini segera
musnah dari bumi Indonesia tercinta.
