Iklan

10 April 2021, 18.00 WIB
Last Updated 2023-02-07T11:56:23Z

Pantangan yang Harus Dihindari Saat Upacara Adat Ngasa di Gandoang

KANGENTRAVELING.COM - 
Pantangan saat Upacara Adat Ngasa di Desa Gandoang, Salem, Brebes ini menjadi konsumsi publik. Karena masyarakat sekitar mempercayai apabila melanggar salah satu pantangannya akan berakibat buruk.

Upacara Adat Ngasa merupakan ritual upacara adat masyarakat yang bermukim di desa Gandoang, Brebes. Tradisi adat yang dilaksanakan pada satu kali dalam setahun itu sudah ada sejak  ratusan tahun lalu.

Upacara Ngasa dilaksanakan dan diperingati pada mangsa kasanga atau bulan kesembilan di kalender Jawa. Hari peringatannya dilakukan pada Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon di lereng Gunung Sagara.

Setelah melaksanakan rangkaian ritual, upacara itu ditutup dengan acara makan-makan bersama.

Sajian makanan yang ada pada peringatan itu adalah jagung-jagungan dan umbi. Namun sebenarnya ada pantangan yang harus dihindari masyarakat desa Gandoang.

Penasaran apa saja pantangan yang harus dihindari dalam upacara adat Ngasa di desa Gandoang? Simak ulasannya dibawah ini!

Pantangan Saat Upacara Adat Ngasa Desa Gandoang

Banyak hal yang tidak boleh dilakukan ketika sedang melaksanakan upacara adat Ngasa. Mulai dari makanan, sajian dalam peringatan, hingga peralatan makan yang digunakan.

Dilarang Memakan Nasi, Daging dan Ikan

Pantangan saat upacara adat Ngasa yang pertama ialah tidak boleh memakan nasi, daging dan ikan. Tradisi turun temurun ini hanya memperbolehkan masyarakat memakan jagung dan umbi.

Karena hal tersebut sebagai rasa syukur atas hasil hutan mereka. Selain itu, semua bahan tersebut sudah tersedia di alam atau lingkungan.

Untuk tempat makan pun mereka menggunakan bahan yang terbuat dari seng atau daun. Selain itu, mereka juga dilarang menggunakan peralatan makan minum yang berbahan dasar kaca.

Dilarang Memakan Makanan yang Bernyawa

Pantangan saat upacara adat Ngasa yang kedua ialah tidak boleh memakan makanan dari hewan atau bernyawa. Hal tersebut sebagai wujud syukur dan penghormatan kepada Betara Windu Buana yang merupakan pencipta alam.

Rumah masyarakat desa Gandoang pun masih menggunakan dinding kayu dan atap seng. Karena, mereka pantang memakai semen.

Rumah mereka juga tidak boleh memakai keramik. Selain itu, juga tidak diperbolehkan menanam kedelai, bahkan memelihara hewan ternak seperti domba, kerbau, dan angsa.

Namun terdapat hal unik lainnya, meskipun Brebes adalah salah satu daerah yang terkenal dengan julukan kota Bawang Merah, namun warga desa Gandoang tidak boleh menanam tanaman khas itu. Kemudian, untuk tanaman lain yang juga tidak boleh ditanam adalah kedelai.

Masyarakat sekitar percaya apabila melanggar salah satu pantangan tersebut akan terjadi sebuah bencana alam.

Sehingga, masyarakat sangat taat dan rutin melaksanakan upacara adat Ngasa desa Gandoang.

Dalam Upacara Adat Ngasa Terdapat Kesenian yang Mengiringinya

Peringatan upacara adat Ngasa akan muncul beberapa kesenian lain yang mengiringinya. Seperti, Perang Centong yang memiliki arti peperangan antara Gandawangi dan Gandasari, menggambarkan kejahatan dan kebaikan.

Selain itu, terdapat Tari Nenandur yang menggambarkan kegiatan masyarakat sekitar sebagai petani.

Dilengkapi juga anak-anak bersuka cita, menari dengan gesit yang terpampang melalui Tari Manuk Dadali.

Tari Dinding Pun juga menjadi salah satu ciri khas untuk menggambarkan para ibu yang sedang menumbuk padi di lesung.

Sementara itu, lima orang pemuda lelaki melakukan Tari Rotan Gila. Dalam istilah bahasa Sunda, tari ini disebut dengan tari Hoe Gelo.

Hoe yang memiliki arti rotan, dan Gelo yang memiliki arti gila. Hoe Gelo ini memperlihatkan suka cita pemuda lelaki desa setelah panen, serta melatih kekuatan sehabis makan hasil bumi.

Banyak sekali keunikan yang ada dalam desa Gandoang, salah satunya adalah pantangan saat upacara adat Ngasa. Hal tersebut adalah sebuah kearifan lokal yang di Indonesia miliki dari salah satu daerah, yakni Brebes.(/bayraharjo)