Iklan

09 April 2021, 20.32 WIB
Last Updated 2023-02-07T13:40:05Z
Promo

Upacara Adat Ngasa di Desa Gandoang, Masih Bertahan Hingga Kini

KANGENTRAVELING.COM -
 Upacara adat Ngasa yang sampai saat ini masih eksis. Masyarakat setempat menjaga tradisi warisan leluhur. Upacara Ngasa ini sebagai warisan leluhur Desa Gandoang. Tentunya yang masih terus  bertahan hingga saat ini.

Upacara Ngasa ini merupakan ritual dari masyarakat  Desa Gandoang. Pelaksanaan upacara ini  satu tahun sekali, sejak ratusan tahun yang lalu.

Pelaksanaan Upacara Adat Ngasa

Pertama kali diadakan upacara ini pada masa pemerintahan Bupati Brebes ke-9. Raden Arya Candranegara (1880-1885) sejak saat itu upacara Ngasa dilaksanakan secara turun temurun. Hal ini disampaikan oleh Kepala Desa (Kades) Gandoang Warkono di ruang kerjanya.

Sedikitnya ada 450 warga membawa sejumlah makanannya dan hasil panen. Dalam mengikuti tradisi adat Ngasa Desa Gandoang dilaksanakan Selasa Kliwon (30/3/2021). Sejumlah paket makanan dan hasil panen akan dibawa ke Gunung Sagara. Letak gunung tersebut yang ada di sebelah utara desa tersebut.

Masyarakat sudah sejak pagi bersama-sama membawa makanan tersebut, untuk upacara adat. Jarak yang ditempuh oleh masyarakat setempat sekitar 2 kilometer. Sehingga akan membutuhkan waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam untuk bisa sampai ke lokasinya.

Lokasi Gedong Jimat

Medan yang ditempuh yang cukup menanjak. Sehingga masyarakat bisa berhenti di sebuah tempat yang bernama Gedong Jimat. Tempat tersebut terdapat sebuah bangunan gubug. Bangunan yang dikelilingi oleh kawasan hutannya yang khas dan juga bambu.

Rombongan akan pertama kali menuju Pancuran Lima. Tentunya sebelum sampai ke Gedong Jimat. Oleh beberapa pemangku adat, lalu ratusan orang tersebut wajib mensucikan dirinya. Dengan melakukan  wudhu di tempat tersebut. Pemangku adat ada sekitar 12 orang, sebagai pemandu rombongannya.

Letak Gedong Jimat tersebut di tengah gunung. Berada di antara areanya dalam Hutan Alam Sekunder. Sebuah daerah lapang dan datarnya yang setinggi 1200 meter di bawah permukaan laut (mdpl).

Momentum Tradisi Adat Ngasa

Adat Ngasa yang sudah menjadi tradisi atau adat turun temurun Desa Gandoang. Peringatan Ngasa setiap Selasa bulan ketiga. Diperingati setiap Selasa Kliwon bulan Maret dengan memiliki filosofinya. Tradisi dari swadaya masyarakatnya, sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.

Selain sebagai ungkapan rasa syukur, tradisi tersebut juga sebagai momen pertemuan. Sehingga bisa melakukan silaturahmi bagi warganya. Setelah menyelesaikan prosesi upacara adatnya. Setiap rombongan akan saling bercerita dan melakukan interaksi satu sama lainnya.

Sehingga manfaat Ngasa bisa menjadikan antar warga lokal dengan luar bisa lebih akrab. Namun karena pelaksanaan Ngasa tahun ini sedang pandemi. Pelaksanaan upacara akan  dibatasi dan tidak sebanyak pada kegiatan tahun sebelumnya.

Hal itu agar menghindari penyebaran dan penularan virus corona. Pada di masa pandemi ini tetap mematuhi protokol kesehatan. Demi keselamatan semuanya agar tetap terjaga.

Potensi Tradisi Ngasa Menjadikan Daya Tarik Luar Daerah

Rombongan yang mengikuti prosesi upacara adat Ngasa tidak hanya dari masyarakat setempat. Namun juga dari rombongan luar daerah. Situs Gunung Sagara dikenal oleh orang luar daerah tidak hanya saat ini, namun telah bertahun-tahun.

Untuk itu, adanya tradisi Ngasa memiliki daya tarik wisata yang potensial. Hal itu karena tradisi ini dapat mengundang serta mengumpulkan banyak orang. Selain itu juga akan membantu mempromosikan desanya lebih luas lagi.

Pihak Pemerintah setempat saat ini sedang merencanakan mengenai perbaikan segala fasilitas. Hal itu agar memudahkan menuju Gunung Sagara. Mulai dari akses, hiburan, dan juga fasilitas pendukung yang lainnya.

Seperti halnya perbaikan pada gapura agar lebih bagus. Kondisi jalanan yang diaspal seluruhnya. Bagian bawah gunung bisa ditambahkan dengan tempat kuliner bagi pengunjungnya.

Upacara adat Ngasa sebagai warisan leluhur yang turun temurun. Sehingga perlu untuk tetap mempertahankan tradisi tersebut.(/bayraharjo)