Iklan

Admin
08 April 2021, 18.00 WIB
Last Updated 2023-02-07T13:25:06Z
Budaya

Sejarah Upacara Adat Ngasa Gandoang dan Beragam Keunikannya

KANGENTRAVELING.COM
Upacara Ngasa merupakan salah satu ritual adat bagi para masyarakat Gandoang, Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Upacara adat ini sangat sarat akan sejarah. Selain itu, dalam pelaksanaan upacara adat Ngasa banyak menggunakan simbol yang mengkomunikasikan beragam makna. Upacara ini digelar setiap setahun sekali dan telah dilaksanakan oleh masyarakat setempat sejak ratusan tahun silam. Semakin penasaran mengenai sejarah upacara adat Ngasa, kabupaten Brebes ini, mari kita simak ulasannya.

Mengetahui Sejarah Upacara Adat Ngasa

Pelestarian sebuah budaya tentu akan mewarnai keteguhan nilai-nilai dari suatu wilayah atau daerah tertentu. Hal ini tentu akan bermuara pada kekayaaan nasional yang cukup adi luhung. Dalam masyarakat Gandoang terbukti memiliki semangat konservasi lingkungan sebagai salah satu usaha yang sangat bagus dalam penyelamatan lingkungan.

Dalam hal ini lingkungan mempunyai hubungan yang cukup erat dengan masyarakat adat yang terdapat di dalamnya. Masyarakat tidak hanya memanfaatkan lingkungan hutan, akan tetapi juga memperlakukan hutan seperti halnya dengan manusia. Sama-sama makhluk hidup yang perlu dikasihi serta dipelihara, dihargai serta dilestarikan.

Bahkan mencabut rumput saja, bagi masyarakat Gandoang dianggap sangat tabu. Masyarakat Gandoang adalah bentuk komunitas lereng Gunung Sagara yang melestarikan tradisi Sunda Jawa. Kawasan ini sudah terpelihara ratusan tahun lamanya dengan memegang teguh upacara adat budaya Ngasa.

Latar Belakang Sejarah Upacara Adat Ngasa

Upacara Ngasa merupakan simbol tanda terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, atas semua nikmat yang telah dikaruniakan. Layaknya pada daerah pantai terdapat sedekah laut, untuk tengah-tengah terdapat sedekah bumi. Sedangkan khusus masyarakat Gandoang, Salem, kabupaten Brebes dan sekitarnya menyelenggarakan sedekah gunung.

Upacara Adat Ngasa pertama kali digelar pada masa pemerintahan Bupati Brebes ke-9 yakni Raden Arya Candranegara pada tahun 1880-1885. Semenjak itu, upacara adat ini digelar secara turun temurun hingga saat ini. Upacara adat Ngasa ini pada umumnya digelar setiap mangsa kasanga.

Mangsa kasanga adalah bulan kesembilan dalam kalender Jawa dalam setiap tahunnya. Mengenai hari pelaksanaan upacara adat ini, dilaksanakan pada Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon. Mengenai lokasi pelaksanaan upacara Ngasa digelar di lereng Gunung Sagara. Selanjutnya, setelah dilakukan prosesi ritual, upacara adat ini pun ditutup dengan acara makan-makan bersama seluruh masyarakat sekitar.

Prosesi dan Keunikan Upacara Adat Ngasa

Sejak subuh dini hari, ibu-ibu warga Gandoang menggendong cepon pada tangan kanannya menjinjing rantang seng. Mereka berjalan menyusuri perbukitan Gunung Sagara dan sampai pada suatu wilayah yang bernama  Pagedongan. Pada kawasan inilah, menjadi pusat terselenggaranya upacara Ngasa terselenggara.

Setelah adanya berbagai sambutan, sampailah pada puncak acara. Puncak acara tersebut adalah pembacaan doa yang dilanjutkan dengan makan bersama. Terdapat hal unik dari perayaan ini, masyarakat pantang untuk makan nasi, daging serta ikan.

Pantangan ini merupakan salah satu bentuk tradisi yang masih bertahan secara turun temurun dari leluhur mereka. Kemudian, makanan pokok masyarakat wilayah ini adalah nasi jagung dengan lalapan dedaunan, umbi-umbian, sambal, terong, pete serta daun reundeu. Pada saat makan pun tidak diperbolehkan menggunakan piring dan sendok yang terbuat dari kaca. Masyarakat menggunakan sendok piring, cepon serta rantang yang terbuat dari seng dan dedaunan.

Sejarah upacara adat Ngasa yang telah dilakukan secara turun temurun selama ratusan tahun lalu. Ngasa juga merupakan wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, atau sebagai ungkapan rasa syukur kepada Batara Windu Buana yang dianggap sebagai pencipta alam.