Iklan

Ridlo Hartamas
26 Agustus 2020, 18.57 WIB
Last Updated 2023-02-07T11:56:23Z

Trip to Jogja Untuk Pertama Kalinya Part 3 (Pasar Bringharjo)

JOGJA - Waktu baru menunjukan jam 8 malam, namun jalanan Malioboro terasa sudah sangat larut malam. Mungkin karena kita sudah berada di tempat itu sejak sore hari. Mba ikmah bertemu dengan teman sekolahnya di sebuah tempat di Malioboro, kita menunggu sejenak sambil menikmati keramaikan riuhnya jalanan Malioboro malam itu.

Ada berbagai macam pedagang kaki lima yang menjajakan makanan, si pengamen malam mengalunkan lagu-lagu terbaiknya. Aku melihat dokar dan becak setia menunggu penumpang datang, sambil sesekali melihat sang empunya menawarkan jasa kepada setiap orang yang melintas.

Kendaraan terlihat memadati jalanan yang banyak memberikan inspirasi kepada para musisi besar tanah air itu. Aku mengarahkan kameraku keberbagai arah di sudut-sudut jalanan Malioboro. Lampu jalanan, kemacetan, tukang sate ayam, dan lain sebagainya. Vira dan si kecil manyun.

Setelah selesai ngobrol dan melampiaskan kangen bersama temannya mba ikmah menanyakan kemana perjalan selanjutnya. Aku mengajak untuk berjalan menuju ke pasar Bringharjo atau ke tugu nol kilometer. Sambil nanti makan malam di angkringan, disana juga kita bisa menikmati kopi joss.

Ternyata pasar bringharjo selalu sukses menutup mata hati dan fikiran setiap wanita. Entah daya magis apa yang ada didalamnya. Karena setiap kali ada seseorang wanita yang masuk keadalam tempat itu akan hilang ingatan, seperti orang kesurupan setan gila belanja hingga tidak tahu bahwasannya ada acara lain untuk menikmati perjalanan ke jogja kali itu.

Belanja di bringharjo memang selalu mengasikan, karena kita bisa membeli banyak barang dengan uang sedikit sekalipun. Harga yang miring dan tawar menawar yang mengasikan menjadi salah satu paduan kenikmatan tersendiri kala berada di tempat tersebut. Bagaimana tidak jika kita terbiasa berbelanja di pasar tanah abang atau thamrin city yang harus membawa segudang uang tapi tetap saja membawa sedikit belanjaan. Nah disini kita serasa bisa memborong semuanya dengan uang kita yang pas-pasan saja.

Barang yang ditawarkan juga lumayan bagus. Modelnya juga tidak kalah menarik, update dan sangat menarik. Aku hanya mengamati dari kejauhan sambil sesekali mengarahkan kameraku untuk menangkap moment aneh disekelilingku.

Vira terlihat sudah sangat tidak nyaman, ingin segera pergi dari tempat itu. Si kecil yang dari tadi kecapean tetap di gendong oleh bapaknya yang setia menunggu mba ikmah berbelanja. Walapun sudah banyak belanjaan namun seperti biasanya, ibu-ibu selalu belum puas jika semua yang diinginkan belum ia dapatkan. Belanja malam itu selesai namun dengan catatan esok hari setelah perjalan kita dari Borobudur pulangnya mampir lagi ke pasar Bringharjo untuk membeli sejumlah baju untuk sanak saudara yang belum mendapatkan.

Kondisi sudah sangat lelah, melihat vira manyun, bapaknya sepertinya sangat lelah melihat mba ikmah belanja, dan lelah menggendong si kecil. Rencana ke tugu akhirnya di batalkan dan kita langsung menuju ke penginapan. Karena besok pagi kita harus sudah menuju ke Borobudur untuk trip selanjutnya. Padahal dalam hati aku “hadeuh kenapa ini mau langsung pulang padahal masih baru jam segini, mana enaknya jam 9 malam di jogja udah mau tidur, belum makan di angkringan, belum nyobain kopi joss, atau menghabiskan semalaman suntuk di tugu jogja di temani alunan musik-musik jalanan”.

Selanjutnya pagi ke Borobudur...